Rabu, 11 April 2018

Waktu Part 14 : Tatapan

Acen, Gilang dan Agung langsung memasang tenda dan merapikan carrier. Ada 2 tenda yang dipasang, satu tenda kapastitas 2 orang untuk wanita, kemudian satu lagi tenda kapasitas 4-5 orang untuk laki-laki.

Jodie dan Jessica sedang sibuk dengan perlengkapan memasak dibantu oleh Mahen.

"Lebih baik lo istirahat di dalam tenda, Jess! Supaya fisik lo lekas membaik." Saran Mahen kepada Jessica.

"Gue ga apa-apa kok, Guys." Yang dituju berkilah.

"Iya Jess! Mending lo masuk tenda gih! Lo istirahatin badan lo." Acen tiba-tiba sudah berada di samping Jessica, mengambil posisi duduk.

"Nah cakep tuh, biiar besok lo bisa ikut kita summit. Yaaa kecuali kalo lo ga mau summit bareng kita." Sahut Gilang dengan santai.

Ancaman Gilang seperti membuat Jessica menurut. Ia tidak mau gagal summit karena fisiknya yang lemah. Jessica berdiri pelan-pelan kemudian memasuki tenda di belakangnya.

Jodie diam saja. Pertama karena ia merasa bersalah karena tadi egois berjalan terlebih dahulu tanpa memperhatikan teamnya. Kedua karena ada Mahen di hadapannya.

"Gung, lo kan jago masak nasi pake nesting nih. Lo bantuin masak nasi yaaa!!"

"Siaappppp!!! Gampang masak nasi mah." Agung menjawab santai. Agung bukan pendaki pemula, ia sudah sering mendaki gunung. Hanya saja baru kali ini ia mendaki bersama teamnya Acen. Ia gabung ke team ini karena ajakan Mahen.

Mahen menyerahkan nesting dan beras ke Agung. Tugas diambil alih.

"Lo bisa masak, Jod?" Mahen menatap Jodie. Sebenarnya Mahen sedang membuka obrolan. Dari tadi ia memperhatikan Jodie yang sedikit bicara.

Jodie yang ditanya mengatur suara, setidaknya supaya terlihat tanpa kecanggungan. "Bisa donk, gini-gini gue suka masak di rumah." Jodie mengangkat kepalanya, melihat Mahen yang menatapnya. Jodie bisa memandang wajah Mahen dengan jelas.

"Iya, masak mie doank!"

Jodie melihat ke sumber suara. Gilang sedang asyik memakan kacang. Ia tahu Jodie melihatnya, tapi ia bertingkah seolah tidak tahu apa-apa.

"Awas lo makan masakan gue!" Ucap Jodie sembari melempar sebungkus mie instan ke Gilang.

Gilang melihat Jodie, menahan tawa. "Apaan sih? masin lempar-lempar makanan aja!" 

"Yaudah, entar bantu lo masak deh!" Mahen yang dari tadi senyam-senyum melihat pertengkaran kecil mereka, kemudian menawarkan bantuan ke Jodie.

Jodie hanya mengangguk. Tidak menjawab apapun. Nampaknya jatuh cinta membuat Jodie menjadi aneh. Yang biasanya riuh, kali ini Jodie begitu pendiam.

Maka sibuklah Jodie, dan Mahen memasak untuk makan malam. Jodie yang awalnya kaku, semakin lama mulai mencair. Ia sudah bisa tertawa tanpa canggung di depan Mahen. Sesekali terlihat Gilang menjahili Jodie, dan terlihat Jodie yang membalas kejahilan Gilang.

Setelah masak, mereka melihat sunset bersama-sama. Jessica yang tadi isitrahat juga tidak mau melewatkan langit keemasan.


***


Setelah makan malam, Jodie dan Jessica memilih langsung masuk tenda untuk beristirahat.

Gilang, Acen, Mahen, dan Agung memilih menghabiskan waktu hingga beberapa jam ke depan dengan bermain domino. Hukumannya yang kalah akan jongkok hingga menemukan sosok kalah kembali. Saat itu yang jongkok adalah Agung.

"Lang!"

"Hmmmm!!"

"Lo sama Jodie kelihatannya dekat banget, ya?"

"Yaaa gitu deh, Hen. Orangtua kami udah saling kenal. Namanya juga tinggal deketan, walaupun jarak rumah kami ga deket-deket banget sih. Gue kenal sama Jodie itu karena sama-sama sering main di taman waktu kecil. Dari situ akhirnya jadi dekat sampe sekarang. Btw kenapa lo nanya-nanya Jodie?"

"Ya gue ngerasa kayaknya Jodie orangnya asyik deh." Tanpa disadari Mahen menghentikan permainannya.

"Weeeyyy!! Yeeee Mahen ngelamun."

Mahendra terkesiap. "Ehh sorry-sorry. Gue yang main yaa?"

Suara mereka riuh. Mereka bisa saja lupa waktu jika saja Acen tidak mengingatkan mereka bahwa besok jam 3 pagi mereka sudah harus bangun untuk bersiap-siap summit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Kal di @kalenaefris