Kamis, 22 Maret 2018

Siap Tidak Siap, Harus Siap Bukan?

Sumber foto : Google


Awalnya aku bingung tema apa yang akan aku ambil pada challenge menulis di hari pertama ini. Hingga akhirnya beberapa orang menyarankan untuk menulis tentang apa saja yang ada di fikiranku. Jika aku tetap bingung, tulis saja kebingunganku tersebut.

Karena yang ada di fikiranku seharian ini adalah challenge menulis ini hahaha, jadilah aku sedikit memberitahu siapa diriku dan mengapa aku mengikuti challenge menulis. Doakan saja besok atau lusa ide di kepalaku mulai berkembang, atau semoga saja aku mengingat kenangan-kenangan lama yang bisa aku tuangkan dalam tulisan.

Aku Kal!
Aku pemalas yang suka gunung dan pantai tetapi malas membersihkan peralatan setelah melakukan perjalanan. Aku pemalas yang suka membeli sayur-mayur untuk kemudian layu di dalam kulkas. Aku si pemalas dengan tempat tidur dipenuhi buku-buku, kertas-kertas, gitar, selimut, kabel data, laptop, juga bingkai foto yang didalamnya ada foto aku, ibu, ayah, dan ketiga adikku. Bahkan jika sedang beruntung, akan ada setrika, hanger, juga tumpukan pakaian yang membuat tempat tidurku seperti tempat penitipan barang.

Aku lebih memilih membagi dua wilayah tempat tidurku hanya karena merasa tidak punya cukup waktu untuk meletakkan barang-barang tersebut di tempat seharusnya. Aku menyalahkan waktu yang kenapa dalam sehari hanya ada 24 jam. Kenapa tidak dibulatkan saja menjadi 30 jam?

Dengan diriku yang pemalas seperti ini, menulis selama 30 hari berturut-turut mungkin akan sulit kulakukan. Sebelum aku ikut challenge ini, aku memastikan kesiapan diriku terlebih dahulu.

Sumber foto : Google

Ternyata kompromi dengan diri sendiri betul-betul tidak mudah. Jika ditanya siap atau tidak, aku akan bilang tidak. Aku dihantui keraguan apakah aku bisa menyelesaikan challenge ini dengan baik atau justru lalai. Aku paham dengan moodku yang selalu berubah-ubah. Aku juga paham dengan sifat burukku yang belakangan ini suka mengulur-ulur waktu.

Tetapi di sisi lain aku ingin naik tangga. Aku ingin kembali menjadi Kalena yang bersemangat. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Aku percaya bahwa challenge ini merupakan jembatan untuk mendapatkan ilmu baru di bidang kepenulisan, mengenal lebih banyak penulis-penulis yang menginspirasi, juga membuang sifat malas yang sudah berkerak di tubuh ini.

Dan akhirnya, keinginan untuk naik tangga tersebut membuatku memutuskan untuk mengikuti challenge ini. Siap ataupun tidak, aku akan menjalaninya. Mungkin aku memang perlu dipecut untuk mau menulis. Semoga saja pecutan ini juga menjadi jalan untukku mengusir kemalasan.

Ohh ya, yang aku lakukan untuk membangun mood menulis di challenge hari pertama ini adalah mematikan lampu utama kamarku, menjauhkan handphone, menyiapkan segelas kopi, kemudian menghidupkan lampu tumblr yang membuat kamarku remang-remang.

#30DWCJilid12
#30daywritingchallenge
#Squad10
#Day1

6 komentar:

  1. Semangat menulis, Kal. Ucapanku seperti memberikan semangat kepada diri sendiri hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak. Kakak juga yang semangat 💪💪

      Hapus
  2. Tos, samaan kita, zaman muda dulu juga isinya kasur macem indomaret, apa aja ada, hahaha

    BalasHapus
  3. Semangat untuk challengenya, Kal.

    BalasHapus

Follow Kal di @kalenaefris