Rabu, 13 Desember 2017

Catatan Tiga Hari - Part 1 - Ketika Destinasi Masih Terus Berevolusi

Coban Sewu atau air terjun Tumpak Sewu

Aku berusaha tidur, tapi mata dan tubuh ga mau kompromi. 

"Matahari kapan nongol yaa?" Aku ngebatin.

"Biar angetan dikit" ngebatin lagi (2)

"Coba tadi bawa jaket" masih ngebatin (3)

"Jaket dimasukin ke bagasi buat apa coba?" ngebatin (4) 

Aku melihat ke kanan, di sebelah kanan ada si Bapak baru bangun tidur. Ga enak juga ngeliat ke kanan mulu. Padahal pemandangan di luar bagusss. Ada pucuk-pucuk pohon, gunung, rumah, sungai, juga sawah. View-nya ga jauh beda seperti saat stalking ig-nya traveler-traveler hits yang ada foto-foto pemandangan dari atas. 

Ga lama, si Bapak ngajak ngobrol. 

"Di Surabaya ga ada tempat wisata, Neng. Mending Neng ke Malang saja!"

Fix! Si bapak adalah orang ke sekian yang bilang bahwa Surabaya tidak ada tempat wisata.

Obrolan berlanjut ke tempat-tempat wisata di Malang. Si Bapak awalnya memberi opsi ke waterpark, taman bunga, dan museum di Malang. Dikira jalan-jalan cantik sama emak-emak sepuh kali ya buahahaa. Setelah aku jelaskan bahwa kami membawa perlengkapan dan tas gunung, akhirnya si bapak bilang ke Gunung Arjuno saja, kebetulan searah jika mau wisata ke Malang.

Tepat jam 7 pagi obrolan aku dan si bapak terputus karena pesawat sebentar lagi mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Meta yang duduk di samping kiri menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Met, aku udah ngobrol sama bapak sebelah aku. Katanya mending kita ke Malang aja, terus mampir di Gunung Arjuno."

"He em, he em." 

Kesalahan aku pagi ini adalah ngajak ngobrol orang yang nyawanya belum ngumpul.

Untungnya tidak lama dari itu nyawa Meta sedikit-sedikit mulai terkumpul, sudah bisa diajak diskusi, jawabnya enggak heem heem lagi kayak cewek yang ngambek gegara janji jalan sama cowoknya dan ternyata si cowok lama jemput.

Dari awal aku dan Meta emang tidak mau ribet. Destinasi nantinya juga tidak dibuat kaku. Semua bisa saja berubah tergantung waktu, kondisi, dan tempat. Ini yang bikin aku demen, karena sejatinya perjalanan itu akan menyenangkan jika dinikmati. Elah sok bijak banget nih terong rebus dingin! Buahahaa

So, opsi sementara untuk kami hingga hari Minggu ke depan adalah ke Gunung Arjuno (walaupun agak sedikit ragu karena peralatan ga safety), kemudian lanjut ke Malang kota.



* * *

Aku dan Meta celingukan setelah keluar dari Bandara. Tujuan wisata boro-boro jelas, kami hanya mengantongi daerah utama yang akan didatangi, yaitu arah Malang.

"Mau kemana Mbak? Ayoo bapak antar." Tiba-tiba ada bapak-bapak nawarin taxi-nya.

"Engga, Pak. Makasih."  Tolakku pelan-pelan, pake logat Jawa. Refleks.

"Emang Mbak berdua ini mau kemana?" Si bapak mulai pocecif eaaa. Enggak enggaak, maksudnya si bapak mulai aktif menggunakan teknik marketingnya.

"Kami di jemput, Pak." Fix, aku bohong.

Meta dari tadi sibuk sama handphone. Dari hasil searching Meta di Google, kami disarankan ke Terminal Bungurasih dulu, terus lanjut naik bus ke Malang.

"Itu Damri ke Bungurasih, Kal!" Di jendela bus ada tulisan yang ga gede-gede amat, juga ga kecil-kecil amat. Lumayan bisa di lihat lah oleh cewe mata minus ini. Kami langsung ke Damri yang jaraknya sekitar 10 meter. Deket!

"Loh Mbak, katanya tunggu jemputan?" Aku dengar si bapak yang nawarin taxi ngomong.

Aku cuma bisa senyum ke si bapak, senyum ga enak, sambil terus jalan ke arah Bus Damri.

"Kalo mau ke arah Malang, kami naik Damri tujuan apa ya Pak?" Tanya Meta ke laki-laki separuh baya yang berdiri persis di depan pintu bus, mastiin aja takut-takut yang di Google salah.

"Naik Damri Bungurasih ini, Mbak!"

Aku dan Meta kompak langsung naik ke dalam bus.

"Kita duduk di belakang supir aja yaa Met!" Setelah meletakkan carrier, Aku dan Meta langsung menempati kursi persis di belakang supir. Alasannya simpel aja cuy, biar gampang kalo mau nanya-nanya.


* * *

Meta: [send pict] biaya mit Surabaya Kal (biaya ke Surabaya, Kal)

K A L: Jadi tini nyak bayar pigha di niku?? (Jadi nanti aku bayar berapa ke kamu??)

Meta: Bagi rua hena 😏 (Bagi dua itu 😏)

K A L: 😌 (ekspresi males ngitung)

Meta: Jadi niku byr di nyak xxx (Jadi kamu bayar ke aku xxx)

K A L: Yuuuu 🙆 (Iyaaa/Okee)

K A L: Gham haga trip cantik api backpacker? (Kita mau trip cantik atau backpacker?)

Meta: Backpacker gawoh (Backpacker aja)


Kesimpulannya... kami berdua Meta ke Surabaya, tiket PP sudah pesan, destinasi dibahas di hari H, bawa tenda, fleksible, dan backpackeran.


* * *


Ga tau yaa ini Damri-nya yang jalan cepet atau jarak ke terminalnya yang deket. Belum setengah jam kami sudah di terminal Bungurasih. Karena jarak Surabaya - Malang yang lumayan jauh, dan supaya bisa bebas keliling-keliling mengingat waktu liburan juga cuma 3 hari, jadinya aku dan Meta memutuskan untuk menyewa Motor. Pertanyaan selanjutnya adalah sewa motor dimana?

Kami sudah keluar terminal. Langit sudah mendung sejak pertama turun dari bus. 


"Kal, ada nih!" Meta ngasih liat handphonenya. "Ehh tapi ga ada no teleponnya, mesti e-mail cuy."

Agak ribet sih kalo by e-mail. Apalagi buat kami yang tahu bulat bin dadakan.

"Wait Met, aku cari di ig dulu!" Aku langsung searching di ig pake hastag #sewamotorsurabaya . Aku merasa cari jasa penyewaan melalui hastag instagram ini cenderung lebih ampuh. Aku jadi ingat kamu pengalaman cari-cari homestay dan sewa mobil di Jogja melalui hastag dan terbukti ampuh.

"Ada nih, Met. Kita hubungi aja!" Aku bacain nomor teleponnya dan Meta yang menelepon.

"Met, aku lapar! Kita sarapan dulu yuk, sambil nelponin yang punya motor!" Meta setuju, ia juga sudah lapar.

Kami masuk ke gang kecil yang cukup dilalui 1 mobil. Kiri kanan merupakan tempat penitipan motor. Aku iseng-iseng nanya penyewaan motor, mereka malah nawarin penyewaan mobil.

Lurus terus dari tempat penitipan motor ada sekumpulan pedagang sayur-sayuran, buah-buahan, dan warteg.

"Aku pengen lalap pete, Met. Kamu mau ga?"

"Mau, Kal."

Aku ke tukang sayur cari jualan pete tapi ga nemu. Ke tukang sayur yang lain penjualnya bilang ga ada. Ke tukang sayur gerobak ga ada juga. Terus ke penjual ikan. Ini ke penjual ikan cuma iseng pengen lihat-lihat ikan doank, suerrr.

"Mau ikan apa Mba?"

"Saya cari pete, Bu." Aku senyum, ibunya bingung. Aku menjauh.

"Herannn, orang Surabaya pada ga doyan pete kali ya?" Aku ngebatin.

Akhirnya kami makan di warteg yang ga jauh dari situ. Tanpa pete!

Ga perlu nunggu waktu lama nih perut terisi juga, sarapan yang nikmat walaupun nikmatnya ga haqiqi karena tanpa pete. 

Meta masih terus usaha telpon-telponin penyewaan motor.

"Ga di angkat, Kal"

"Coba penyewaan yang ini, Met!" Aku kasih alternatif lain. Tentunya hasil hastag mujarabnya igeh, #sewamotorsurabaya. HeuHeuHeu.

"Ga diangkat-angkat juga" Meta meletakkan handphonenya.

Sebelum sarapan tadi Meta sempat ngeluarin hasil berburunya, rujak buah. Tapi tadi karena lapar, kami memilih sarapan dulu.

Sekarang kami makan rujak buah. Lebih tepatnya buah yang sudah di potong-potong, kemudian di coel-coel dikit di bumbu rujak.

Teg !!!

Meta cengok, aku shock.

"Aaaaa Metaaa. Behelku copot!" Aku refleks pegang geraham, satu Behelku sebelah kiri goyang-goyang.

"Ya ampun Kaalll. Issshhh.. Kamu baru konsul kemarin loh!" Meta ngomel, secara Meta paham banget tentang behel. Katanya dia 4 tahun pake behel, dan sekarang sudah lulus dari dunia perbehelan.

"Kirain ga bakal copot, Met."

"Lagian kamu, kenapa gigit melon? Itu kan keras!" Meta bawel.

Huahahaha.
Huahahaha.
Huahahaha.

Tadi aku shock, sekarang ketawa. Mungkin Meta akan berfikir "Random banget nih bocah, baru aja panik, sekarang udah ketawa-ketawa."

"Udah biarin aja." Aku pindah nguyah sebelah kanan, tapi ga mau makan melon. Trauma baahahaa.

Handphone Meta bunyi. Ternyata telepon dari penyewaan motor, tapi ga tau penyewaan motor yang mana.

"Halooo... iya tadi saya telepon mau sewa motor Pak... iyaa... harga sesuai yang di cantumin kan Pak? iyaa... oh gitu... iyaa antar aja... iyaa... kami tunggu di terminal Bungurasih ya pak... iyaa... makasih." Telepon ditutup.

"Emang sewa motor yang mana Met?"

"Ga tau yang mana ngaahahahaa"

"Lah itu tadi, bilang sesuai yang di cantumin?"

"Biar ga di tembak harga aja, Kal."


* * *


"Kita mau mandi ga, Met?"

"Boleh."

Ehh pas kamar mandi umum udah dapat, kami berubah fikiran.

"Aku ga jadi mandi ahh, Met! Ribet."

"Aku juga engga, paling entar cuci muka doank."

"Ho oh, sama."

Kami sudah keluar dari warteg, sudah ga lagi mikirin perut. Cuaca yang sedari tadi mendung sudah mulai gerimis. Kami keluar ke jalan utama mencari jas hujan untuk Meta tapi ga nemu-nemu.

"Met kita ke Alfamart itu aja yuk, sekalian belanja!"

"Pak, nanti tolong antar motornya ke Alfamart yang seberang Gudang Garam Tbk yaa! Setengah jam? Okee.. iyaa pak." Meta baru saja menelpon tempat penyewaan motor menginfokan lokasi terbaru kami.

Minimarketnya lumayan besar. Yang menyenangkan adalah depannya luas dan lebar. sepertinya memang tempat kebanyakan orang-orang menunggu, berteduh, juga titik temu. Di sebelah kiri kanan minimarket masing-masing terdapat 1 buah lubang colokan yang langsung aku dan Meta manfaatkan untuk mencharge handphone masing-masing.

Hujan makin deras, beberapa pengendara motor mulai memarkirkan motornya dan memasuki area minimarket sekedar untuk berteduh.

Setelah belanja-belanja kebutuhan selama liburan serta bergantian ke toiletnya Alfamart, aku dan Meta mulai ngobrol (sedikiitt) serius. Kami mau kemana?

Ga perlu lama-lama, di pojok sebelah kanan minimarket, aku dan Meta sudah membombardir pertanyaan-pertanyaan ke mas Hasfi, cowok berkacamata usia sekitar dua puluhan yang baru saja kami kenal.

Berawal dari pertanyaan yang hanya mengerucut ke destinasi wisata sekitar Malang, Mas Hasfi memberikan referensi tempat wisata yang bisa dibilang jalurnya searah. Dari sekian banyak referensi tempat wisata yang mas Hasfi sebutkan, setelah ngintip-ngintip Google tentang sejarah dan keindahan tempat wisatanya, akhirnya kami fokus ke Alun-alun Malang, museum di Malang, masjid Tuban, air terjun Tumpak Sewu, dan pantai Tiga Warna.

Gunung Arjuno akhirnya kami skip karena setelah menimbang, memikir secara seksama, dan menyimpulkan, ternyata kami ga safety untuk ke gunung.

Belanja indomie kebutuhan trip kali ini


* * *


"Mbak Meta ya?" Seorang lelaki berbadan sedikit berisi, kulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 168 cm, usia sekitar 30 tahun tiba-tiba nanya.

"Bukan, Mas. Meta yang itu." Sambil nunjuk cewek yang duduk dekat colokan sebelah kanan.

Meta duduk ngedeprok di dekat colokan sebelah kanan minimarket. Aku setengah membungkuk memegang handphone di dekat colokan sebelah kiri minimarket. Dan si Mas penyewa motor ujuk-ujuk datang nebak bahwa aku adalah Meta.

"Tapi ga apa-apa ke aku aja, Mas. Kami berdua kok yang mau sewa."

Eng ing eng... ga pake lama dan ga pake ngopi, kunci motor Mio GT beralih ke tanganku. Setelah Meta menyerahkan KTP dan KTM (Kartu Mahasiswa), aku dan Meta langsung siap-siap menggunakan jas hujan. Meta memakai jas hujan dari mas penyewaan motor, aku juga memakai jas hujan yang sudah ku siapkan.

Jam 11 tepat kami memulai perjalanan ke Malang. Sesuai petunjuk dari Mas Hasfi, kami hanya perlu luruuuuuusssss terus ngikutin jalan hingga bertemu jalan seperti bundaran kemudian ambil ke arah kanan.

Pekepekepekepekepek ! Suara jas hujan. Hujan memang sudah ga deras lagi, hanya gerimis kecil. jadinya jas hujan plastik 10ribuan ini mulai berisik banget tertiup angin.

Sejam di perjalanan hampir ga ada kendala karena selain petunjuk ke arah Malang juga terlihat jelas, kami juga sesekali bertanya ke sesama pengendara motor sekedar untuk memastikan. 

"Loh, kok jalan di tutup?" Kami sekarang tiba di Sidoarjo, jalan di depan kami di tutup. Sekitar 7 meter di depan kami ada tanda panah, dan petunjuknya mengarahkan kami untuk menggunakan jalur alternatif ke arah kanan.

"Di depan banjir." Sekilas aku mendengar percakapan sesama pengguna jalan.

Baru juga motor jalan pelan-pelan ke kanan, kami melihat beberapa pengguna motor tetap menggunakan jalur yang di tutup.

Dan kami nakal. Kami lewat jalan yang di tutup. Motor kami jalan pelan-pelan.

Baru sekitar 600-700 meter motor kami jalan, di depan kami samar-samar terlihat jalan mulai tertutup air. Jalanan penuh kenangan genangan!

"Gimana nih, Met?" Aku bingung, Meta juga sama.

"Mau balik lagi, Kal?"

Motor tetap jalan pelan-pelan.

"Itu jalan!!!" 

Di sebelah kiri ada jalan tanah bergelombang dan menanjak dengan lebar sekitar 4 hingga 5 meter.

"Jalan yang banjir kan lurus, kayaknya jalan sebelah kiri itu jalan alternatif. Kita lewat situ aja ya!"

"Iya kita coba aja. Hati-hati ya, Kal. Jalannya begini ni ni ni begitu soalnya."

Motor mulai belok kiri, di belakang kami juga ada beberapa pengendara motor yang juga belok kiri. Setelah motor menanjak sekitar 15 meter, kami melihat hamparan lumpur yang sangaaaatttt luas. Lumpur Lapindo!

Sekarang kami yakin bahwa jalur yang kami lalui adalah benar. Di sebelah kiri, kami disajikan hamparan lumpur berwarna cokelat ke abu-abuan bercampur air, dan sebelah kanan kami adalah jalan raya yang tergenang air. Kami melihat beberapa mobil truk yang tergenang hingga ban mobil tersebut tidak terlihat.

Aku meminggirkan motor sebentar, sekedar untuk melihat lumpur lapindo dengan lebih dekat. Meta sudah lebih dulu turun dari motor. Meta memandang jauh, dan lekat-lekat.

Aku mendekat, mengambil handphone kemudian merekam ekspresi muka Meta.

"What do you think?" 

 "I don't know" Meta menjawab. Matanya tetap melihat jauh. Entah apa yang Meta fikirkan, alisnya naik turun.

"Sedih yaa." Aku cuma bisa bilang gitu.

Aku dan Meta terbawa suasana. Berita yang berisi tuntutan, demo, juga kesedihan masyarakat Sidoarjo beberapa tahun ke belakang kembali menjadi jelas di kepala.

Di depanku dan Meta sebelumnya merupakan 16 desa dengan 3 kecamatan di wilayah Sidoarjo, yang kemudian pada Mei 2006 terjadi musibah menyemburnya lumpur di lokasi pengeboran Lapindo.

Semburan lumpur makin meluas hingga menyebabkan tergenangnya kawasan pemukiman, pertanian, serta perindustrian. Jika dilihat dari atas, kawasan lumpur lapindo seperti kolam dengan luas mencapai 640 hektar.

"Kita lanjut yuk, Kal!" Setelah foto sebentar, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Malang.

Sepanjang perjalanan kami kembali di guyur hujan. Kami sudah kembali ke jalan aspal. Jika tadi kami tidak nakal dan masuk ke jalan yang ditutup, mungkin kami hanya tau bahwa lumpur lapindo berada di Sidoarjo. Hanya sebatas tahu.

Lumpur Lapindo sejauh mata memandang

* * *


"Mas, numpang tanya. Arah ke Malang yang mana ya?" Tanyaku di lampu merah.

"Oh masih jauh, Mbak. Dari sini Mbak ambil kanan, terus luruuussss ajaa ikuti jalan!"

"Yang ini Mbak jangan lurus. Kalo lurus nanti masuk tol mbaknya!" Ujar mas-nya sedikit kencang. Hujan masih deras, tapi suara mas-nya terdengar jelas.

"Makasih ya, Mas"


* * *


~ Bersambung. Kelanjutannya klik disini ~

Saat Meta dan aku menghabiskan petang di Malang 👯

48 komentar:

  1. Lucu juga, ada kosa kata baru "terong rebus dingin" hahaha.
    BTW, behel copot kelanjutannya gimana mbak? Pasti repot buat makan selama di travelling.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha padahal itu spontan aja kepikirannya mas, tapi makasih ya. Iya emang agak ngerepotin sebenarnya, tapi mau gimana lagi emang akunya yang bandel makan ngasal hahaha

      Hapus
  2. seru..seru banget pengalaman ngebolangnya...

    BalasHapus
  3. Seru bacanya bikin ngakak 😁 ditunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  4. Lucuk.. ada adegan behel copot pula..
    Kalian gila mau ke Arjuno tapi nekat.. untung ga jadi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kami ga jadi ke Arjuno kak, ga safety soalnya. Kami juga ga mau maksain :)

      Hapus
  5. Mbatin 1-4 wkwk kocak keren ngetrip bener2 bertualang inimah

    BalasHapus
  6. Metal banget sampe turun pesawat gak tau mau ke mana. Keren dah

    BalasHapus
  7. Gokil juga yah, ngebolang ga tentu arah wkwk

    BalasHapus
  8. aku suka bgt nih jalan yang begini. kapan kapan boleh diajak ya kaa. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayookk Chaaa, kita kapan-kapan ngegembel bareng hahahaa

      Hapus
  9. Seru ya kisahnya 😂😂. Kayak baca novel humor jg lucuu

    BalasHapus
  10. Hebat ya, serbadadakan. Selalu kagum sama cewek2 yg berani begini :D

    BalasHapus
  11. Seneng banget bacanya deh! Seru ya punya teman seperjalanan yang bisa diajak backpacker-an! Kapan-kapan jalan bareng yuk, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayookk dengan senang hati kak, kita ngegembel bareng :D

      Hapus
  12. Orang surabaya abseen.. hahah.. emang di Surabaya jarang ada tempat buat ngetrip kak.. kalo mau jalan idealnya memang ke malang.. btw itu behel copot gimana kak selama ngetrip? Ganggu gak pas makan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ga apa-apa Len, biar kami tau juga Surabaya kayak gimana. Behel copot ganggu, tapi ga pake banget hahaha

      Hapus
  13. kal memang gini ya theme blognya? komen harus pindah tab dulu... hihhih.. lu ajak2 gue donk kalo jalan.. hahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kemaren belum liat-liat pengaturannya bang. Sekarang sih baru ku otak-atik lagi. Ga tau deh nambah bener atau nambah aneh hahaha. Kebolak, abang yang ajak-ajak aku jalan keleus hahahaa

      Hapus
  14. Kalo lanjut ke Arjuno,,hmm
    So nekadz inimah..

    Jd kmana nih Kal? Ah ternyata Kalena
    Aku membayangkan kamu "HaiKAL" wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ndar biasanya orang kalo belum pernah ketemu pasti manggil aku BANG hahahaa

      Hapus
  15. bikin aku ngakak pagi-pagi baca ini. penulisan dialognya detail sekali, dan ditulis dengan benar. Yuk kapan-kapan kita mbolang bareng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Bu Guruuuuu... aku juga pengen kapan-kapan bisa ngebolang bareng sama Kak Yunita, sekalian belajar puisi :D

      Hapus
  16. Gokil banget sih tripnya, hahah
    senyum-senyum bacanya, dan ada satu info yang baru tau, ternyata hestek IG banyak manfaatnya. hihi... Di tunggu part selanjutnya yaaaa...

    BalasHapus
  17. Pengen sekali-kali ngerasain ngetrip tanpa tujuan gutu ya , on the spot aja mikirnya jadi seru ada tantangannya

    BalasHapus
  18. Hahaha enak yaa punya teman yang suka ngebolang.

    semangat terus keliling Indonesia dan dunia. kalau jalan-jalan jangan lupa upload ke Instagram, dan cantumkan hastag, siapa tahu ada yang nyari :D

    BalasHapus
  19. Fix! Mbak ini adalah petualang sejati! (199)

    BalasHapus
  20. cerita seru tapi bacanya bingung kalau di laptop.. mungkin karena hurufnya yang gede banget dan tiba2 ada yang kecil banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku kemarin postingnya dari handphone bang, dan aku akui emang berantakan untuk tulisannya hahaha. Ini baru sempat edit-edit langsung di PC.

      Hapus
  21. Ahahha.. Aku ngakak bacanya. Seru ya!

    BalasHapus
  22. selagi masih bisa bernafas teruslah berevolusi

    BalasHapus
  23. Saya bacanya senyum-senyum sendiri. Bagus dan natural.

    BalasHapus
  24. Wah seru banget jalan aja tujuan mikir belakangan...

    BalasHapus
  25. Wah keren kak, ditunggu kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
  26. Penasaran sama lanjutan ceritanya. Hahaha. Tulisannya juga lucu hehe

    BalasHapus
  27. Kalian lucu bgt sih hahaha penasaran sama cerita selanjutnya euy

    Beni (nggak bisa komen di google account?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita selanjutnya entar ya bang hahahaa. Sorry bang aku baru otak-atik lagi settingan komentar. Mudah-mudahan komen melalui Google Accountnya bisa.

      Hapus
  28. aku terispirasi sama , cari homestay, sewa motor, mobil.via hashtag ig .. kayanya suatu saat bakal aku pake cara ini. hhe

    BalasHapus
  29. Bacanya lumayan lama ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha harusnya di alenia pertama aku kasih note kalo tulisan berpotensi bikin mata perih yaa. Mungkin next bakal aku potong-potong lagi ceritanya :)

      Hapus
  30. ajak aku jalan2 kak, aku anak rumahan :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayook bang backpackeran bareng. Ishh hoax banget anak rumahan 😆

      Hapus
  31. Sampai skrg gw belum pernah liat lumpur lapindo secara lgsung. Nice story

    BalasHapus
  32. Seruu pengalaman mbolang tanpa nentuin tujuan dulu kayak gitu ...
    Bener loh, siapa tau ya malah nemuin tempat wisata yang oke 😁

    BalasHapus

Follow Kal di @kalenaefris